PENDAPAT SAYA TERKAIT PENGERTIAN RUANG DIKAITKAN DENGAN BEBERAPA FILSUF YANG SUDAH MENDEFINISIKANNYA
"Ruang" adalah sesuatu yang selalu berhubungan dengan arsitektur. Bila Anda seorang arsitek, maka makna ruang adalah termasuk paling penting dalam proses desain, hingga sebuah bangunan terwujud. Karena pada dasarnya kita berhubungan dengan 'ruang' bila bicara arsitektur.
Filsuf Leibniz menyatakan bahwa ruang adalah hubungan sebuah obyek dengan obyek lainnya, sehingga tercipta sebuah koneksi. Sebuah obyek individual tanpa relasi dengan obyek lainnya tidak dapat dikatakan memiliki ruang. Setidaknya sebagai sebuah obyek dengan material yang nyata bukan hanya ukuran dimensi, obyek dalam ruang tidak bisa tidak, harus memiliki relasi dengan obyek lainnya dan dengan demikian memiliki parameter untuk dikatakan sebagai ruang (semoga saya tidak salah mengartikan pendapat Leibniz ini ya).
Filsuf yang lebih baru yaitu Emmanuel Kant mengatakan bahwa ruang bukanlah sebuah koneksi antar obyek, melainkan adalah konsep sistematis untuk menjelaskan pengalaman (experiences) melalui pengamatan obyektif. Sedangkan
Fisikawan yang hampir mendekati filsuf melalui teori fisikanya yaitu Einstein mengambil teori relativitas dimana ruang dan waktu adalah tak terpisahkan, dimana hubungan antar obyek itu relatif, berhubungan dengan pergerakannya (pada dasarnya kita berada dalam kosmik yang bergerak). Mudah-mudahan kita bisa memahami apa yang baru saja saya tuliskan :)
Dalam konteks arsitektur, pendapat ketiga tokoh diatas dapat kita jabarkan sebagai berikut:
- Leibniz: Ruang adalah sesuatu yang diakibatkan oleh hubungan antar obyek. Misalnya, saya ada dalam ruangan ini, karena saya sebagai entitas, memiliki hubungan dengan ruang ini sebagai dua obyek yang berbeda.
- Kant: Ruang adalah konsep sistematis yang sebenarnya diciptakan dalam pikiran kita untuk menjelaskan persepsi yang diterima akibat sensasi panca indera dengan hal-hal lain yang berhubungan dengan kita sebagai subyek. Misalnya: Apa yang saya rasakan tentang ruang ini akan berbeda dengan Anda, karena saya memiliki konsep yang berbeda untuk menjelaskan ruang dibandingkan konsep Anda tentang ruang.
- Einstein: Ruang diakibatkan oleh pergerakan obyek dimana konsep ruang sifatnya relatif, yang mengakibatkan perbedaan waktu yang dialami oleh masing-masing obyek. Misalnya: Apa yang saya rasakan dalam ruangan ini, akan berbeda dengan apa yang Anda rasakan, karena masing-masing dari kita bergerak dalam sistem ruang dan waktu yang berbeda.
Bila kita lihat melalui pemahaman saya diatas tentang pendapat beberapa filsuf, maka bisa kita simpulkan bahwa ruang itu selalu berbeda bagi setiap orang, atau setiap manusia yang berada didalamnya. Saat saya berada di hall A, dan Anda juga berada di hall A, apa yang kita alami adalah sama sekali berbeda. Dalam hal ini, pengertian ruang yang lebih kompleks dapat dijabarkan melalui teori relativitas Einstein. Tapi, arsitek bukanlah seorang fisikawan, melainkan seorang yang memperagakan dalam parodi kehidupan, bagaimana membuat filsafat tentang ruang menjadi nyata dalam rancangan arsitektur.
Ruang terbuka lahan kosong Suga Ibi dengan kolam dan tenda biru sederhananya, serta kursi-kursi desain Samoke
DALAM PEMBICARAAN SAYA, SAMOKE DAN SUGA IBI
Dalam dunia arsitektur, ruang lebih diidentifikasi sebagai sebuah kesadaran akan kondisi lokal yang melingkupi pengguna ruang tersebut. Dalam pembicaraan ini, kami mulai mengupas tentang apa itu ruang, yang sangat penting dalam arsitektur. Ruang bisa berarti banyak hal, ruang dalam konteks kamar-kamar rumah, ruang hall, ruang rapat, ruang terbuka hijau, atau mungkin ruang yang tidak nyata, seperti ruang batin, ruang pemikiran, dan sebagainya. Dalam pembicaraan ini, kami ingin mengungkapkan, setidaknya melalui kata-kata, definisi ruang atau space.
Baik saya, Samoke dan Suga Ibi mulai membuat definisi awal tentang ruang.
SUGA IBI
Definisi ruang adalah ”apa yang bisa kita rasakan dengan batas indera kita, indera perasa, indera penglihatan, indera pendengaran dan sebagainya. Dalam contoh ruang yang sedang kami rasakan saat ini, kami bisa mendengar suara burung berkicau, yang melengkapi sebuah ruang. Apakah sebuah ruang itu tinggi, rendah, pendek, atau apapun itu tidak masalah. Misalnya: ruang angkasa tidak bisa terkira, tapi dengan 'merasakan' melalui batas nalar kita, kita mengetahui ada yang disebut sebagai 'ruang' angkasa.
Suga Ibi ditemani minuman sederhana dan 'pohung keju' hangat yang sempat kami beli di jalan sebelum ngobrol disini.
Dalam konteks ruang yang lebih besar ada ruang kota, ruang negeri, dan ruang yang lainnya. Ruang itu pada akhirnya adalah sebuah batas. Bila kita berpikiran ruang dalam rumah, maka berupa kamar kamar. Tapi begitu kita berpikir tentang ruang tata kota, misalnya, maka kita berpikir tentang ruang yang lebih besar, dan begitu seterusnya. Ruang yang dihasilkan bisa dirasakan sebagai sensasi ruang yang diharapkan, secara fisik dan psikologis, dalam skala ruang kecil maupun ruang yang lebih besar seperti ruang kota. Ruang yang dirasakan oleh arsitek lebih bisa terdefinisikan, seperti ruang yang aman, ruang yang nyaman. Hal ini berbeda dari ruang dalam sastra, seni, ekonomi, dan sebagainya.
Adalah merupakan tugas arsitek untuk membuat ruang itu terasa seperti apa. Apakah kita merasa tertekan dengan kehadiran sebuah ruang, ataukah ruang bisa dibuat atau didesain agar ia terasa terbuka, dan sebagainya.
PROBO HINDARTO
"Ruang adalah sesuatu yang bisa diisi". Arsitektur adalah seni yang bisa diwujudkan (berdimensi). Sebuah ruang dalam arsitektur yang dihasilkan oleh arsitek, tidak bisa begitu saja lahir tanpa pemahaman tentang ruang dan elemen-elemen lain yang berhubungan dengannya. Sebut saja elemen lain ini seperti kondisi sosial, ekonomi maupun kejiwaan dalam hubungan antar individu yang terlibat dan antar individu dan lingkungannya.
Sebelum merancang, sebaiknya arsitek memiliki imajinasi dan pengetahuan tentang ruang, baik imajiner maupun ruang tempat perubahan akibat arsitektur yang akan terjadi. Arsitek harus mereka-reka terlebih dahulu sebuah ruang melalui alat yang didapat dari pengalaman inderawi untuk menghasilkan ruang yang lebih ideal. Inilah yang dilakukan dalam proses desain melalui proses men-sketsa, menggambar dan membuat maket. Sebuah maket merupakan replika ruang dalam bentuk yang kecil, dan lebih mewakili ruang yang ingin kita ciptakan, karena maket berada dalam dimensi yang sama dengan yang kita rasakan saat ini (tidak hanya sekedar gambar).
Hubungan dengan alam adalah penting, karena alam, memiliki kesan ruang yang un-predictable (tidak terkontrol), sedangkan arsitektur itu dibuat agar ruang menjadi ’predictable’ (terkontrol). Ini adalah sifat dasar manusia untuk mempertahankan teritori atau batasan ruang dengan menciptakan batasan yang dapat dikuasainya, dengan kata lain: 'diatur'.
Bila kita terlalu membebaskan alam untuk mengejutkan kita dengan kesan2 ruang yang terlalu liar, maka ruang arsitektur yang seharusnya 'predictable' itu tidak menjadi ruang yang secure (aman), karena kita sebagai manusia secara biologis membutuhkan ruang untuk membatasi kita dengan berbagai gangguan alam. Tingkat ideal sebuah ruang akhirnya ditentukan oleh gagasan awal dari imajinasi, dan hasil arsitektur terbangun yang dicoba dihasilkan oleh sang arsitek. Hal ini ditentukan oleh pengetahuan dan cara mengimplementasikan sebuah konsep desain yang dimiliki oleh arsitek berdasarkan misi yang diembannya terhadap sebuah project.
SAMOKE
"Ruang adalah dimensi suasana yang batasannya bisa kita jangkau", itulah logikanya. ”Sesuatu yang tertangkap, melalui indera kita”. Ruang itu batas, apakah itu besar atau kecil, adalah sebatas kita melihat. Semampu kita saat mendengar, menggema, sesuai apa yang bisa tertangkap oleh indera kita. Dalam arsitektur, kita mendefinisikan ruang melalui karya arsitektur. Misalnya ruang ATM itu kecil tapi dia terasa sejuk, atau ruang hall yang besar tapi dia terasa sumpek.
Setelah kita berpraktisi sebagai arsitek, maka pemahaman kita sebagai arsitek akan lebih dalam, tidak lagi seperti saat kita berhadapan dengan kertas dan pena dalam dunia akademis. Hal ini mengingatkan kita bahwa pendidikan arsitektur saat ini masih selalu berkutat pada ruang sebagai 'bentuk', bukan ruang dengan 'skala'. Tradisi dari ruang angan menuju ruang rekaan seharusnya dibarengi dengan bahasa akademis yang sifatnya klausalitas. Mestinya jika diajarkan tentang skala, maka harus diajarkan tentang niskala. Bila diajarkan tentang concrete, maka harus diajarkan yang concave.
Ruang yang terjadi, akibat selembar plastik biru yang membentuk sedikit pengatapan yang terlihat rapuh, dan menyandarkan diri pada realitas yang jauh lebih besar dalam ruang publik kota.
Penehgahnya adalah tingkat rekaan sosial, yaitu sejauh mana secara individual calon arsitek maupun arsitek memiliki rekaan sosial yang bisa diwujudkan dalam desain. Sejauh mana ia memiliki pengetahuan tentang kondisi sosial disekitarnya. Artinya, ruang dalam arsitektur lebih luas saat kita berpraktek. Menurut pak Eko Prawoto, disinilah peran arsitek dalam menghasilkan rancangan arsitektur, seperti memperhatikan arsitektur tropis. Seharusnya arsitektur tropis itu lebih banyak ruang luarnya daripada ruang dalamnya.
Misalnya, sebuah ruang yang kita tempati untuk berbincang saat ini (tanah kosong milik Suga Ibi), bisa membuat kita melakukan sesuatu secara terus menerus karena kondisinya yang tidak mengekang, tidak membuat kita pasif dalam duduk diam, atau tidur, atau tidak melakukan apapun. Wujudnya bisa ruang komunal, ruang genial (ruang yang menghidupkan). Sayangnya saat ini, tidak banyak lagi ruang alun alun, atau jalan yang menampung konsep konsep ruang genial. Ruang genial selalu membangkitkan orang untuk beraktivitas, secara sosial dan saling mendukung.
Terminologi Samoke: Ruang angan dan Ruang rekaan
Ruang angan adalah ruang yang ’dikhayalkan’ dulu oleh perancang (didalam imajinasi perancang), kemudian diawali dalam ruang rekaan (arsitektur yang dilahirkan ke dunia) sebagai sketsa. Ruang angan, untuk menuju ruang rekaan adalah sebuah seni yang diaplikasikan. Perbedaan arsitek dan seniman adalah adanya dimensi yang bisa diwujudkan.
Ruang angan dan ruang rekaan itu menjadi lebih penting, karena itu awal dari sebuah idealisme. Misalnya ada seorang arsitek ingin membuat ruang arsitektur yang seperti stasiun MIRR, maka untuk membuat sebuah arsitektur yang seperti itu kita membutuhkan awalan dalam ruang angan, sebelum ia diwujudkan dalam ruang rekaan.
Seharusnya arsitek akan menemukan ruang rekaan yang ideal ketika ia dalam ber-ruang angan dan ber-ruang rekaan dapat menyerap semaksimal mungkin lokasi desain yang akan dibuat. mendesain sebuah ruang. Artinya; seorang arsitek akan lebih baik dalam mendesain, ketika ia tahu benar kondisi lokasi dimana karya arsitekturnya akan dibangun. Kekuatan rekaan ruang rasa itu menjadi penentu berhasil tidaknya sebuah ruang menjadi ruang rekaan yang ideal.
KESIMPULAN
Ruang, sebagai salah satu dimensi paling berpengaruh dalam arsitektur, terasa sangat berbeda dalam konteks seni yang bisa diwujudkan ini, bila dibandingkan dengan konsep ruang menurut matematika dan filsafat. Untuk membuat sebuah ruang memiliki makna lebih dari sekedar boks 3x4m, dengan plafon dan lantai, adalah merupakan tugas arsitek... Mungkin juga lebih dari itu.... penciptaan ruang batin yang terjadi dalam diri seorang penderita, yaitu pengguna rancangan kita.
Konteks ruang dalam pandangan masing-masing praktisi boleh jadi berbeda, seperti yang terjadi dalam pandangan saya, Samoke dan Suga Ibi. Meskipun pada dasarnya menuju pada sebuah kesimpulan yang tidak jauh berbeda. Barangkali hal ini, karena kami punya ruang pemikiran yang berbeda, dan ruang gerak yang (sempat) berbeda. Meminjam dan mengubah sedikit terminologi Samoke.
Tetap semangat!
________________________________________________
© Spirit Arsitek Muda Malang [SAMM]