Kamis, November 17

Grandlaunching buku Contemporary/Surabaya/Architecture Vol. I


Grandlaunching buku Contemporary/Surabaya/Architecture Vol. I akan diselenggarakan pada :

Hari / Tanggal : Sabtu , 19 November 2011
Waktu : 12.30 s.d 17.00 WIB
Lokasi : Gedung NASDEC-ITS
Alamat: Jl. Taman Teknologi ITS, Kampus ITS Sukolilo (Dekat Gedung Robotika ITS)
Moderator: Mohammad Chottob

WAKTU

ACARA
12.30-13.00

Registrasi
13.00-13.10

Pembukaan
13.10.13.15

Sambutan oleh Ketua Panitia
13.15-13.30

Pemaparan Karya oleh Evtline Atelier (Demaya)
13.30-13.45

13.45-14.00                      
Pemaparan Karya oleh MADcahyo (Demaya)

Tanya Jawab

14.00-14.15

Pemaparan Kurator oleh Ir. Joyce M. Lairens, M. Arch

14.15-14.30

Pemaparan Kurator oleh Ir. Budhi Harmunanto
14.30-15.30
Presentasi VOL.1-Surabaya.Comtemporary.Architet oleh Imelda Akmal dari Studio IAAW
15.30-16.00

Review buku oleh Prof. Dr.Ir. Josep Prijotomo, M.Arch
16.00-16.45

Tanya jawab dan Door Prize
16.45-17.00

Penutupan


Tetap semangat!
info oleh Nino Haris dan Probo Hindarto
________________________________________________
 © Spirit Arsitek Muda Malang [SAMM]

Kamis, September 15

SAMM reBorn

SAMM reBorn,
sebuah frasa yang tercetus untuk menandai kelahiran kembali SAMM.
agenda hari ini adalah silaturahmi halal bihalal, banyak sapa pendapat dari sejawat, serta presentasi proyek dari sejawat arsitek. Dibahas juga tentang rencana penulisan buku yang akan diteruskan oleh sejawat SAMM untuk menandai reBorn SAMM.


presentasi:

  • Reni Ambarwati, MC
  • Mistar arsitek - karya bangunan komersial
  • Probo Hindarto - beberapa karya terakhir
  • Iyal Fahri - struktur tenda
  • Aditya Lantip 'bunder' ( CDArc) - kawasan konservasi Wasior, Papua
  • Sam Oke - Rumah di Bojonegoro, bangunan kantor struktur baja Agus Samsudin
  • 'Nino' Haris Wibisono, Ketua IAI Cab Malang

 ________________________________________________
 © Spirit Arsitek Muda Malang [SAMM]

Sabtu, April 30

Ngobrol Santai bareng Adi Purnomo (Mamo) di Saung Agus Samsudin, April 2011

Ditulis oleh Probo Hindarto

ketik on site with Mamo di pertemuan SAMM, tempat di saungnya Agus Samsudin. mencoba mengerti apa yang 'dimaksud' oleh Mamo... agak susah mengintisarikan, maka saya coba mengetikkan kata2 yang terdengar oleh saya. tentunya ini tidak merepresentasikan keseluruhan kata-kata, banyak yang terlewat dari distorsi suara ataupun kecepatan mengetik saya.

gambar sketsa mamo... oleh Probo Hindarto
klik untuk memperbesar

Mamo tentang Kopi: minum kopi itu adalah sebelum dan setelah meminum kopi. (minta) Rokok Dji Samsoe. mulai sulit membedakan adanya nilai lokal dengan adanya minimarket.... (dan kata Nino tadi Mamo menghitung kira kira ada berapa minimarket yang menyajikan gaya serupa di mana mana.... tanpa lokalitas. )

"Sneak Preview".

Mamo, just arrived


Tiap hari saya makin sulit bila disuruh bercerita tentang arsitektur.

untuk Pechakucha 20slide x 20menit
Bila saya cerita itu, maka orang tidak akan mengerti pengalaman saya saat melihat daun itu. Kamera hanya alat bantu untuk membantu orang mendapatkan arti. Kita tidak pernah memahami sisi dalam hal ini, sementara bila kita berkecimpung dalam dunia arsitektur ini, sebarannya jadi banyak sekali. Tidak mungkin mendefinisikan satu demi satu sehingga apa yang saya lihat adaldalah sebuah fragmen yang bisa jadi bermacam macam pengertian.

Villa.
Sedang dikerjakan Mamo.
mereka punya sejarah sendiri dengan tempat itu. Bapaknya seringkali disitu. Tiba tiba ditempat itu dan ada sebidang tanah yang ditawarkan. menjadi semacam tempat yang ...

Sekolah: suatu saat murid akan me'recall pengalaman saat dia berada disitu.
Bila kita berpraktek, kita mendalami sesuatu. ada masa2 kita lama mencerna sesuatu, sedangkan saat lain kita cepat. Pengalaman pertaman biasanya sangat akurat. Seperti ada ide. agak sulit menjelaskannya. Ini salah satu kunci.





Saya dibekali oleh kuliah dengan sesuatu, yang seakan dijejali. Desain adalah sebuah produk. Bayangannya ingin selalu bikin sesuatu, lalu mencari referensi entah dalam bentuk visual ataupun dalam bentuk foto. Saya pikir itu sah sah saja tapi ternyata makin lama makin tidak terlalu puas dengan itu. Perhatian utama saya tentang kenyamanan dan masalah bagaimana arsitektur bisa menyelesaikan tanpa harus mengunakan teknologi yang advanced. arsitektur tidak bisa dikaitkan dengan teknologi, karn ia ruang. Material yang paling bisa didapat adalah dari alam. Saya akhirnya mencoba merangkai tanpa menyuadari. semacam insting sepertinya ini ya... lama lama saya belajar dari apa yang saya kerjakan sendiri. Tiba tiba saya punya satu pertanyaan yang agak menjadi beban buat diri sendiri. Studio kecil seperti saya punya peran atau tidak sih terhadap suatu wacana atau apapun .... saya mulai menemukan bahwa nggak bisa dikatakaan begitu... sebetulnya bila kita melihat................................... (air gemericik)..... waktu itu permasalahan kota Jakarta .....

dengan banyak......................

untuk waktu itu membayangkan jakarta dalam background masing masing.... ternyata dari segi arsitek itu sangat picik. kita bergerak dalam lingkungan binaan tapi kita tidak bisa melihat sebebas itu ... ada suatu komponen yang tiba tiba kita terlalu hilang. .... berhibungan dengan orang, binatang, dengan apapun.... saya memformulasikan apa yang saya kerjakan sendiri. fakta ruang hijau dan segala macam sekecil apapun yang saya lakukan ..... ....... ................................

kita seringkali mengabaikn hal hal yang sepertinya tidak penting. Komponen yang kecil kecil itu mulai saya observasi. dengan menyisir hal hal diluarnya. ada hal hal yang makin lama makin menjadi sebuah kebiasaan sampai sekarang.

pada akhirnya adalah pemahaman publik untuk bisa menerima. mengorbankan sedikit dari apa yang kita punya tapi berpengaruh sekali pada lingkungan kota. saya pada akhirnya mulai berpraktis seperti itu. dan membuat suatu standar.

setiap orang pasti punyua temuan lain...paling tidak dengan cara itu saya lebih relax dalam mendesain. ini bukan masalah kompromistis... arsitek memnbatasi di lingkaran itu... klien juga tapi bagaimana menumbuhkan kesadaran itu. dengan cara itu menjadi semacam riset... ada latar belakang yang relatif lebih mudah dimengerti.

nino: mas mamo berubah.... dulu foto pake jas, lalu 2004 pake item2... dan sekarang putih...

samoke: dalam cara berpikir.....

mamo: jangan2 itu membenarkan premis saya yang mana saya membayangkan banyak studio kecil yang bisa punya intensitas jauh kedalam... studio kecil sepertinya tidak terlalu punya beban terdhadap kebutuhan yang lebih praktis. bila studio besar kan terbebani dengan programatik.... bila laper laper sendirian... tidak harus bikin orang lain laper.... :D

kayaknya jadi lebih berakar.... apanya... ininya... sikap terhadap profesi arsitek terhadap profesinya lebih punya akar... mencari profesinya sendiri. saya sendiri punya diskusi seperti itu. Bahkan anak magang saja tidak bisa nerima... saya sempat terpikir itu.

moga2 tahun ini ... saya ada audiensi dengan suatu yayasan... yang mana arahnya bisa membiayai proses riset karena sya juga memanfaatkan proses riset itu untuk publik.

nino: sekarng berapa orang di studio mas Mamo?

Mamo: satu, dan satu lagi, yang lbih bergerak di landscape. ada kecocokan dan dia arahnya juga ke arsitektur. mengajak join.

kalau bisa seperti itu.... mimpi saya ingin punya bengkel dan tim kerja yang lebih banyak observasi penelitian dan satu yang mengerjakan proyek. tiga hal yang saling mendukung.

sudah pernah kesini, diterapkan kesini... lari disini... memang bener sh akhirnya tidak bisa saya kerjakan sendiri. kemungkinan untuk pendanaan ini bisa masuk lewat dana CSR.




Buku Relativitas.... saya merasa malu dengan buku itu.... saya sempat membaca lagi buku itu dua tahun lalu.... saya ingin menuliskan 'anti nya.... itu kan sangat rasional... entity itu.... tiba2 saya sampai pada waktu... dilihat dan dipecah .... saya mencoba menuliskan itu tapi ternyata butuh waktu lama.... itu hanya sisi kecil dari sesuatu yang kita pahami saat ini sesuai dengan kapasitas umur. sambil mendalami hal hal yang saya minat. beberpaa hanya sampai pada tataran konseptual, tapi saya punya satu saluran yang bisa mewujudkan dalam instalasi arsitektur. tapi dari sisi ke ranah seninya... lebih powerful sebagai ruang.... ......

Tito: instalasi di Universitas Brawijaya akan dilakukan secara berkala.... merupakan karya yang cukup besar dimana bisa sampai tujuh meter...

Mamo: kalau boleh tahu... kenapa instalasi arsitektur?

...........

Samoke: instalasi arsitek dan seni itu beda. Arsitek bila instalasi itu cenderung ruang, bila seniman cenderung kritik. contohnya karya seniman di bandung dan karya seperti Eko Prawoto itu berbeda. mungkin dengan instalasi arsitektur itu bisa mencari ruang diluar ruang arsitektur itu sendiri. Tapi bagi masyarakat itu untuk diliput itu misalnya seperti Eko Prawoto.

Karya pak Eko Prawoto, nilai ruang nya sangat berperan....

Mamo: sejarah instalasi itu sendiri gimana sih? saya tidak terlalu tahu tentang hal ini....

nyambung ke instalasi tadi... buat saya sih... lebih ke.... biasanya project arsitketur itu makan waktu lama... kemudian ada sesuatu yang selalu jadi mengisi ini ... sementara bila mengerjakan instalasi itu lebih ke suatu yang konseptual... fungsi, yang selalu harus di...............

fungsi itu jadi hilang... kesempatan untuk menyampaikan sesuatu yang konseptual itu bisa langsung.... instalasi pertama saya itu tentang hari bumi.... saya menggunakan potongan kayu laminasi yang berbentuk seperti kepompong dimana orang bisa masuk.... tiba2 jadi ruang dan saya bisa cerita tentang material kayu alternatif dan cara membuat ruang dengan menumpuk... itu kan cara yang tradisional dengan cara yang baru.... itu berada di mall... seperti tempat sembunyi sebentar... tersampaikan dari material dan cara membangunnya.

mempresentasikan pintu........................

ketika pintu buat saya cuma merupakan jalan.... batas ataupun cara menembus... semacam titian. sifatnya jadi lebih abstrak. saya menunjukkan cara konstruksi yang tidak pernah dilakukan dalam arsitektur... tiba tiba ia bisa interaktif dan tiba tiba banyak sekali pesan, itu yang saya harapkan. sesuatu tidak akan pernah bisa dipahami dengan cara yang sama.

belakangan saya ringan sekali melihat orang membuat sesuatu....

instalasi adalah sebuah jalan pintas menyampaikan sesuatu, sementara arsitektur itu terbebani dengan fungsi. arsitektur banyak terdapat hal hal yang tidak pas disitu karena alasan fungsi....

arsitektur perkawinan antara teknik, seni, dan banyak hal... tetep ada satu aspek tertentu yang harus kita penuhi.... saya tidak bisa menceritakannya tapi bisa dirasakan... ini seharusnya disitu... dan disana... ada semacam rasa yang tepat...

arsitektur nusantara itu bukan hanya pada tataran wuud, tapi pada tataran proses... ada hal2 yang lebih spesifik yang hanya ada pada kalam Tuhan, misalnya.

Tito: pernahkan mentransfer pemahaman desain?

Mamo: tidak bisa ditransfer. tiap pemahaman itu bisa dimengerti tapi pemahaman tiap orang akan sampai pada titik ruang dan waktunya sendiri sendiri. ada hal yang sudah menjadi skenario. saya percaya sekali itu... sekarang.

intinya sebenarnya... saya sering membiarkan diri asyik dengan sesuatu.......... saya sekarang tidak bisa mengatur waktu dengan baik, karena tiba2 apa yang mestinya saya lakukan dua bulan lagi... itu saya lakukan sekarang karena ingin.

Kopi luwak segar

Mamo dan Agus Samsudin, mengobrol tentang luwak, tanaman langka dan sebagainya. Kebetulan di kebun Agus ini cukup banyak tanaman langka.


Tetap semangat!

________________________________________________
© Spirit Arsitek Muda Malang [SAMM]

Ngobrol Santai bareng Ridwan Kamil, Imelda Akmal, Sonny Sanjaya Maret 2011

Ditulis oleh Probo Hindarto
26 Maret 2011

Pertemuan kali ini dengan tiga tokoh yang cukup berpengaruh pada arsitektur Indonesia yaitu Pak Ridwan Kamil, Imelda Akmal, dan Sonny Sanjaya. Untuk Ridwan Kamil kebetulan pada pagi harinya melakukan presentasi tentang Local Tripod di Hotel Santika Malang.



Pada pertemuan ini banyak ditanyakan tentang esensi desain tertama berkaitan dengan Urban design yang cukup dikuasai oleh Ridwan Kamil. Menurut Ridwan, atmosfer saat ini membaik dengan banyak dilakukannya sayembara arsitektur yang banyak diikuti oleh arsitek dan mahasiswa. Lokalitas sangt diperlukan, biasanya untuk bangunan yang butuh simbol seperti Convention Hall misalnya, harus mencermnkan spirit warga bersangkutan. Pengalaman mengikuti berbagai sayembara tingkat dunia memberikan tingkat pemahaman yang tinggi terhadap desain.



Beberapa aspek desain terutama urban desain dipaparkan Ridwan kamil seperti pentingnya sisi visual dan grafis, sisi aksesibilitas, dan aspek lokalitas. Terutama untuk aspek lokalitas, perlu diperhatikan sisi teknologi dan konteks Indonesia yang ingin dibuat. Eksplorasi material lokal bisa membuat arsitektur kita 'dihormati' karena justru menunjukkan kekuatan lokal. Tidak harus semua menjadi hi tech, teknologi tinggi dengan material yang sangat canggih. Kunci penghormatan dunia adalah aspek lokalitas yang tinggi bisa diangkat menjadi nilai lebih pada sebuah desain. Contohnya struktur bambu yang dibuat bentang panjang seperti Green School di Bali mendapatkan banyak pujian dan perhatian.



'Tidak ada hal baru dalam arsitektur, hanya ada sintesis' dari semua pengetahuan arsitektur yang sudah dibuat dan diciptakan selama ini. 'Arsitek mensintesiskan desain dari yang sudah pernah ada menuju yang baru, bermutasi menggabungkan ruang ruang yang sudah ada menjadi sebuah ruang baru. Originalitas adalah sesuatu yang baru yang kita tidak pernah mencapainya'. 'Plagiarisme tidak bisa diukur, bagaimana mengukurnya? Bila ada kesamaan yang sekian persen, itu dianggap mencontek'. 'Imajinasi manual memiliki keterbatasan namun desain berdasarkan eksplorasi teknologi mungkin lebih masuk akal'.



'Teori psikologi, orang meminta kita mendesain sesuatu yang sesuai dengan logikanya dia. Jadi perlu diperbaiki cara meeting dengan klien, saya rubah. Saya slide show dulu untuk dikeluarkan sebagai konsep sehingga kita bisa menjelaskan lebih dulu tentang konsep yang kira kira bisa 'nyambung', meskipun demikian ada juga yang tidak bisa berjalan dengan cara ini'. Dari 100%, Ridwan Kamil memperkirakan 70% keberhasilan dari merubah mindset klien dengan penggambaran konsep awal. Contohnya pada arsitektur masjid, dimana kubah tidak selalu merupakan simbol masjid, maka masjid juga tidak perlu ber-kubah.



Imelda Akmal.
Materialisme sangat penting untuk dieksplorasi, sehingga material tidak hanay dipakai sebagai cara untuk penjualaan material fabrikasi saja, tapi juga dari material yang lokal yang belum tersebtuh fabrikasi.

Galih WP
Arsitektur hanya satu bagian dari kehidupan yang sebenarnya harus ditunjang oleh banyak aspek lain seperti ekonomi, industri, dsb. Tanpa sebuah gerakan bersama maka arsitektur saja tidak akan memberikan banyak perubahan. Yang paling penting adalah memberi arah, kemudian mengendalikan baik di skala kota ataupun desa.



Ridwan Kamil:
Kota2 Indonesia itu lebih mudah diselamatkan dengan peraturan, bukan oleh inovasi arsiteknya. Kuncinya adalah mentalitas. Arsitek yang praktek harus kembali mencari ilmu. Contohnya Jakarta, Gubernurnya belum bisa menemukan cara merevolusi demokrasi, belum menyentuh tata kotanya. Di luar negeri, banyak arsitek yang jadi walikota mendapatkan penghargaan. 'Kota adalah perebutan kekuasaan, jadi bila kita tidak rebut, maka tidak ada kekuasaan. Arsitek harus melek politik dengan gerakan yang bisa mengeluarkan ide untuk perbaikan kota'. Negara yang sudah makmur, biasanya generasi mudanya apatis, tapi di Indonesia gerakan seperti pertemuan hari ini bisa merupakan awal.





Tetap semangat! ________________________________________________
 © Spirit Arsitek Muda Malang [SAMM]

Jumat, April 29

Ngobrol Santai SAMM bersama Imelda Akmal dan Sony Sanjaya

Ditulis oleh Probo Hindarto

23 Februari 2011 Imelda Akmal berpresentasi tentang dunia penulisan dan launching buku barunya dengan mengundang SAMM dan IAI Cabang Malang serta kalangan akademisi dan mereka yang tertarik. Presentasi dibuka dengan presentasi Sony Sanjaya tentang fotografi arsitektur untuk publikasi arsitek. Saat ini semua publikasi arsitektur memiliki bagian yang besar terdiri dari foto foto arsitektur bangunan. Media arsitektur mendapatkan foto melalui liputan atau MEDIA COVVERAGE yang merupakan cara tradisional, dilakukan di banyak negara, termasuk Indonesia.








Keuntungannya adalah arsitek tidak mengeluarkan biaya, namun memiliki kekurangan dimana proyek arsitek diluar daerah cenderung tidak mendapat tempat dalam media tersebut. Eksklusifitas media, cenderung membagi liputan dengan media lain.

Tren saat ini adalah publikasi arsitektur mendapatkan foto dari architect submission dimana arsitek mengirimkan foto, bahan tulisan dan sebagainya untuk dipublikasikan. Ini banyak dilakukan di negara maju dan media interiasional.

Keuntungannya adalah arsitek memiliki portofolio dan ada di berbagai media, namun harus mengeluarkan biaya.

Untuk sebuah media profesional biasanya diperlukan 6 sampai 12 foto. Foto yang dibuat biasanya meliputi foto keseluruhan, bagian menarik dan juga detail yang menarik.


Imelda Akmal
Presentasi kedua disampaikan Imelda Akmal yang menjelaskan tentang publikasi arsitektur. Publikasi bentuknya berpa tulisan gambar, foto, dan visualisasi lain yang disebarkan ke masyarakat. Teori yang digunakan adalah Vitruvius dengan ten books on architecture. Vitruvius adalah orang pertama yang menulis tentang arsitektur dan setelah 500 tahun belum ada lagi orang yang menulis tentang arsitektur. Namun keduanya bukan arsitek karena profesi ini belum terdefinisikan dengan jelas. Leon Battiista Alberti adalah orang pertama yang memberikan penjelasan bahwa arsitek adalah profesi yang berbeda dari pembangun. Semua teori dikembangkan oleh berbagai tokoh berbeda hingga Le Corbusier arsitek abad 19.


Arsitek menulis untuk mendokumentasikan karya, sejarah dan tempat. Arsitek menulis juga untuk emnuangkan gaggasan dari karya arsitektur agar dapat dimengerti masyarakat luas. Alasan lain adalah untuk menularkan ideologi.

Menurut Achmad Tardiyana, menulis adalah mengembangkan teori, menyampaikan kritik, dan mendeskripsikan proyek dan menggambarkan latar belakang lahirnya proyek. Terakhir, arsitek mungkin sedang galau menghadapi kondisi sekitar.

Menurut Imelda, arsitek harus menulis sebagai tanggung jawab arsitek terhadap karya yang dibuatnya. Arsitek menulis juga untuk mendapatkan pengakuan dan publisitas, karena arsitek dilarang untuk beriklan.

Studio IAAW menulis dengan beberapa alasan. Studio ini merupakan studio penulisan arsitektur dimana tujuannya memberikan pembelajaran tentang desain arsitektur kepada orang awam. Menjadi mediator antar arsitek dengan publik. Menulis juga mengenalkan arsitek dan arsitektur Indonesia kepada publik luar, ke seluruh dunia. Menjadi penulis juga bisa menjadi sebuah profesi, karena jarang arsitek yang menjadi penulis.



Esok Paginya...






Imelda Akmal dan Sony Sanjaya datang ke saung Agus Samsudin dan merasakan kopi luwak, serta mengobrol dengan teman2 SAMM. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...