Selasa, Februari 24

SAREN, SIREN, LADU dan komplek makam AERMATA

penulis / trekker : sam oke / sitok / eko / tgl januari 08 - januari 2009



Disekitar daerah tuban,lamongan,gresik hingga madura ,dan mungkin daerah pesisir
utara pantai jawa lainya,terdapat bahan bangunan yang beda dlm mendirikan bangunan.
bahan tersebut hasil dari pemotongan batuan endapan kapur di pegunungan yang berada...

di sekitar daerah tersebut,menurut hasil penelusuran penulisnya, pemakaian bahan ini dilakukan sejak zaman setelah majapahit yaitu sejak zaman islam masuk jawa dan madura. ini terbukti adanya beberapa bangunan yang memakai bahan tersebut yang hingga kini masih ada.
 
  
  
 

tehnologi pemotongannyapun sangatlah sederhana. yaitu dengan memotong sesuai
ukuran yang ada di pasaran,dengan memakai gergaji besar, batuan yang di
gunakan dan dipilih adalah batuan kapur yang mengalami pengendapan ratusan atau
ribuan tahun yang lalu.




pemanfaatan batuan ini dalam bangunan di gunakan mulai dari urugan tanah,
pondasi ,dinding, lantai hingga ornamen bangunan
batu bata itu di sebut SAREN atau SIREN yang di gunakan sebagai pondasi dan dinding,
sedangkan untuk urugan tanah disebut LADU.

karakteristik bahan ini adalah,berpori-pori longgar ada juga yang padat ,terasa dingin dan meresap bila kena air, permukaanya kasar,mempunyai berat yang lebih dari bata merah.bila di pasang dan dibiarkan terekpos agak lama akan lulutan ( berlumut )
Secara nominal harga per bijinya Rp.500-2500,
ukuran yang ada di pasaran adalah ( 10cm x 15cm x 35cm untuk dinding dan 35cm x 35cm x 35cm
untuk pondasi ), harga diatas terkadang berbeda, karena melihat kwalitas endapan kapurnya,
itu bisa di pastikan dari karakter berat ,warna kapur,pori-porinya,kekerasan dan ke bagusan pemotongan.

Keuntungan pemakaian jenis bata SAREN ini lebih cepat dalam pemasangannya dan baik
dari sisi pemakaian pondasi maupun dinding.dari sisi jumlah kebutuhan juga lebih sedikit
di bandingkan pemakaian bata merah. dari sisi kekuatan sebanding dengan batu bata merah
 juga batako. bata SAREN ini permukaanya juga lebih rata dan rusuk sudutnya lebih tajam.

Kerugian pemakaian bata ini adalah kebutuhan untuk adukan spesi lebih tebal ( 2cm-4cm ),
dalam plesteran juga demikian biasanya juga lebih tebal. tetapi dalam beberapa bagunan lama ada yang
hampir tidak memakai siar spesi dari susunan bata tersebut.









Dalam investigasi  jenis bata ini banyak dipakai di daerah pesisir pantai utara hingga madura,karena bata SAREN ini mudah di dapat,pemakaian bata ini ada kemungkinan ada
pengaruhnya terhagap angin laut yang cenderung membawa kelembapan garam.
dan dalam pemakaiannya sangat mudah dan cepat,karena poriporinya yang
longgar dan bahan dasarnya dari endapan kapur jadi dalam proses pengeringan adukan
lebih cepat kering, itulah sekilas investigasi tentang saren orang pesisir menyebutnya, pabila ada nama laen buat pembaca mohon di infokan ke penulis.


KOMPLEK MAKAM  AER MATA
( di sebut masyarakat "airmata Ibu" ,di arosbaya,bangkalan,madura )
dari info beberapa org pemakai bata saren ada sejak dulu dan ada peninggalannya dimadura, akhirnya tulisan tentang saren berlanjut ke arosbaya madura.

 
  
  
 


komplek makam ini adalah makan keturunan Prabu Brawijaya raja majapahit setelah Lembu Peteng yang memeluk islam, keturunan ke 9nya Raden Praseno ( P. Cakraningrat I - IV hingga P. Cakra adiningrat i - IV ) pada tahun 1624 - 1815. dan menyebarkan agama islam dan jadi pemimpin di sekitar bangkalan  madura dan sekitarnya.
letak makam berada di perbukitan dan di bagi dalam zona dan tingkatan tertentu.
 
  
 
secara garis besar model,susunan pembagian ruang luar , bangunan pendopo dan elemen ruang luarnya masih ada nuansa gaya arsitektur majapahit ( yang terlihat di detail dan model susunan batanya di setiap gerbang, cuma yang membuat beda adalah bahan yang dipakai bukan batu-bata merah,tetapi memakai SAREN atau batu bata putih ).

 
 



gaya kolonial juga dipakai pada model kolom-kolom di pendopo penerima, yang letaknya satu poros dengan dua gerbang. sementara susunan zona pembagian makam secara tata letak mencirikan model pemakamam muslim pada zaman kesunanan di jawa ( walisonggo ). sedangkan cungkup makam utama bangunannya berbentuk joglo jawatimuran ( joglo ini sudah mengalami renovasi ).
yang membuat komplek makam ini berbeda adalah karena hampir secara keseluruhan bata yang dipakai mengunakan bata putih atau SAREN yang tidak memakai siar spesi atau nat bata.

mayoritas pemukiman di sekitar makam ini juga kebanyakan memakai saren, tetapi kwalitas bahan dan pengerjaan bangunannya  kurang baik.




Tetap semangat!
________________________________________________

© Spirit Arsitek Muda Malang [SAMM]

1 Comments:

Anonim mengatakan...

wah.. makasih ya atas infonya.. sgt membantu.

Poskan Komentar

Kirimkan artikel ke Web SAMM

Untuk lebih giatnya aktivitas dalam web SAMM, dan agar tulisan tidak monoton, mengapa tidak mengirimkan artikel dan bahasan Anda sendiri tentang arsitektur? Karena fungsi admin sebenarnya adalah menjembatani SAMM dengan internet dan khalayak arsitektur di seluruh Indonesia dengan SAMM dan web ini. Silahkan mengirimkan naskah artikel ke web SAMM dengan form ini (form akan masuk ke email pribadi admin, untuk sementara ini).

nama
email
judul
artikel
attach
attach
attach
attach
Image Verification
Please enter the text from the image
[ Refresh Image ] [ What's This? ]