Senin, Maret 15

Ngobrol bambu di saung Suga Ibi (16 maret 2010)


Malam ini kita bertamu ditempat suga Ibi di studionya yang terbuka ditengah lahan cukup luas ditengah kota Malang yang sejuk. Cenderung dingin malah, kita bersua kembali setelah lama sekali tidak bertemu, dan di lahan Suga sudah berdiri satu saung yang mirip seperti dapur dan ruang makan, seperti sebuah warung. Suga ibi membuatnya dari bambu, dan kayu ulin. Tidak tampak begitu jelas awalnya sehingga beberapa waktu terlihat mulai jelas bentuk saung ini. Satu persatu sejawat SAMM datang dan mulai membuat minum dan makan suguhan yang disiapkan Suga dan istrinya, serta martabak manis bawaan mbak Reni.


Suga menjelaskan tentang proyek barunya, yaitu kandang sapi. Yup, sebuah kandang sapi dengan kantor dan sebagainya, yang tentunya terbuat dari bambu, kayu dan baja. Tapi tidak ada gambar atau foto yang dipresentasikan disini. Suga belum menunjukkan fotonya.



Kandang sapi? Iya. Seluas beberapa hektar yang dibuat dari struktur bambu, dengan dilengkapi banyak fasilitas peternakan sapi. Ini adalah kandang sapi terbaik di seluruh Indonesia, merupakan proyek percontohan peternak sapi australia.

Peternakan ini menampung puluhan hingga ratusan ribu sapi, dengan angka penjualan sapi berkisar 50.000 sapi perbulan. Tidak mengherankan bahwa peternakan yang ada harus melalui desain yang berdasarkan kontrol mutu. Desain dibuat oleh arsitek, yang tentunya tidak bisa dengan sembarang standar saja, standarnya adalah standar peternakan sapi.



Pelajaran tentang bambu yang diberikan oleh Suga kali ini, adalah pengalamannya dalam mengolah bambu sehingga siap digunakan untuk proyek sebesar ini. Suga mencoba untuk memakai cara yang disarankan oleh Budi Pradono dengan cara merebus bambu hingga 12 jam untuk menghilangkan karbohidrat dan protein dalam bambu, tetapi entah bagaimana bambu ini justru melunak dan tidak bisa digunakan karena dengan cepat dimakan bubuk (rayap bambu). Air bekas rebusan bambu berbau harum seperti rebusan tebu, menurut Suga.

Faktor yang mendasari pemilihan bambu juga menjadi faktor penting, mengingat bambunya ditebang saat musim hujan sehingga kadar airnya tinggi. Secara umum kondisi bambu saat ditebang dan digunakan ini tidak terlalu favourable. Akhirnya cara yang ditempuh Suga Ibi adalah dengan melumuri bambu dengan solar. Untuk bagian dalamnya diberikan solar juga dengan cara disuntikkan. Solar ini menghalangi hama bambu dari memakan bambu ini sehingga awet. Cara ini juga menjadikan bambu lebih terlihat mengkilap.



Pada waktu saya memasuki bangunan saung bambu Suga ini, bau solar juga tercium, tapi entah mengapa menjadi satu dengan suasananya yang asri itu.

Mengingat hadir di SAMM ketua IAI Malang Nino Haris Wibisono, dia menyematkan penghargaan berupa pin pada Suga. Beberapa hal tentang IAI Malang juga disampaikan disini berupa saran untuk kinerja IAI agar lebih baik lagi.







Penulis dan Fotografer: Probo Hindarto
www.astudioarchitect.com 


Tetap semangat!
________________________________________________

© Spirit Arsitek Muda Malang [SAMM]

1 Comments:

Anonim mengatakan...

wah ganteng juga ya mas agus, hehehehe

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...